BIOGRAFI PENGASUH PP MANBAUL ULUM
KH. MUHAMMAD ABDUL DJALIL
Dikala situasi dan
kondisi kehidupan manusia semakin memperihatinkan yang ditunjang dengan adanya
krisis mental dan degradasi moral yang makin parah tergilas oleh putaran roda
globalisasi yang telah mendobrak nilai-nilai islamy.Halal dn haram disisi
kehidupan hanya tinggal nama belaka,sedang eksitensi dan esensinya terkubur
dalam,ditelan budaya yang membudak kehidupan manusia.
Menghadapi
problematika demikian maka umat manusia memerlukan seorang panutan yang mampu
menjadikan umat yang sadar atas kodrat manusia.Latar belakang inilah yang
mendorong kami untuk mengaktualisasikan biografi pengasuh dengan harapan mampu
dijadikan wawasan dan bisa kita ambil contoh tentang apa yang menjadi keteladanan
beliau.
B.Keluarga Pengasuh
Ditahun
1941 dikala Bangsa Indonesia masih
terbelenggu oleh cengkeraman tangan penjajahyang masih bercokol ditanah air,lahirlah
sosok insan Bpk.Sarwi dengan Ibu.Layimah,yakni Abdul Djalil,yang sekarang
terkenal sebagai penngasuh PP.Manba’ul Ulum.Beliau adalah salah satu dari
saudara laki-laki dan satu dari saudara perempuan.Sejak kecil beliau telah
tercermin bahwa beliau ini adaalah sosok insan yang berbudi luhur, sopan
santun, taat dan senang mengajibaik bersama sang ayah ataupun pengajian-pengajian
diluar daerah.
Hal
ini mengetuk hati sang ayah untuk mendidik dan membawanya kesuatu pondok
pesantren.Dan beliau(Abdul Djalil,Red.)juga tertanam dihatinya bahwa suatu saat
beliau akan pergi ke pesantren untuk
memperdalam ilmu agama.namun di usianya yang relatif masih muda beliau terkena
sakit parah.Berkali-kalinhidung beliau mengeluarkan banyak darah kental.Setiap
hari rumahnya didatangi pengunjung untuk menjenguk,lebih-lebih di malam
hari,rumahnya dipenuhi para pengunjung.
Besar
sekali hikmah yang diambildari kejadian tersebut. Ternyata kejadian itu merupakan awal dari
tercapainya cita-cita beliau yang selalu di idam-idamkan.
Dimalam yang sunyi,disaat angin malam dingin berhembus menghiasi sepinya malam,turunlah hidayah dari Allah SWT lewat bisikan sang ayah “Le,mbesok lek loromu wes waras, koen lungoho nang pondok”.( Nak,besok kalau sakitmu sudah sembuh, pergilah ke Pesantren ). Itulah bisikan sang ayah yang setia menunggu dan merawat beliau dikala sakit. Setelah kurang lebih satu bulan, Alhamdulillah beliau sembuh dari sakitnya.
Di
sekitar tahun 1956 disaat suasana bulan Syawal menyelimuti kebahagiaan
fitrahnya umat manusia, disaat ayunan langkah teriringi teduhnya sayap
malaikat. Disaat menyatunya air mata sang ayah dan sang putra
kesayangannya,berangkatlah Abdul Djalil ke sebuah pesantren untuk “ngangsu
kaweruh” tepatnya di Slatri Kecamatan Kasembon kabupaten Malang yang diasuh
oleh Kyai Muhtady(Alm.). Disana beliau mengaji mulai kitab-kitab, mulai kitab
Fiqih, Tauhid, Tafsir, Tasawwuf, Badi’, ma’ani, Bayan dan lain sebagainya.
Setelah
beberapa tahun,nampaklah sifat keteladanan beliau mulai dari ketekunan,
kesopanan dan kejujuran yang beliau miliki, hingga sifat tersebut diketahui
keluarga ndalem. Dengan keteladanan yang beliau miliiki membuat keluarga ndalem
simpatik dan aakhirnya beliau ditunangkan dengan salah satu putri Mbah Kyai
Muhtady yang bernama Ummi Khasanah(Putra ke 5).
“Le,
ngaliyo pondok liyo,pokoke ojo ngalor ojo ngidul”.( Nak, pindahlah ke pondok
lain, pokoknya jangan ke utara dan jangan ke selatan),itulah pesan Romo Kyai
Muhtady(Alm.) kepada Abdul Djalil.
Karena
saking tawadhu’nya pada sang guru,beliau rela meninggalkan Slatri yang sekarang
terkenal dengan sebutan PP. Manba’ul Huda, yang sekarang diasuh oleh Gus
Son’ani Mahfudz(Putra Romo KH.Mahfudz
Muhtady (Alm.). (KH. Mahfudz Muhtady
adalah kakak ipar KH.Abdul Djalil,karena Ibu Nyai Ummi Hasanah adalah
adik kandung beliau).
Sebelum
menentukan dimana beliau harus pindah pesantren,beliau mencoba menuju ke sebuah
pesantren tepatnya di Sidoarjo. Namun hanya beberapa hari beliau tinggal disana
lalu beliau pindah ke pesantren di daerah Blitar.Tapi hanya beberapa saat
beliau pulang ke rumah.
Memang
besar sekali arti petuah yang di sampaikan sang guru. Ojo ngetan, Ojo ngalor,
ojo ngidul. Akhirnya beliau yakin bahwa pesantren yang cocok adalah berada di
barat Kota Batu (kota tempat tinggal beliau,Red.). Dengan istikhoroh yang
mantap akhirnya beliau mendapatkan hidayah lewat seorang yang bernama marlan
untuk pergi ke Pesantren bendo, Pare, Kediri. Sesampainya di Bendo, Marlan
inilah yang mengurusi Abdul Djalil. Mulai dari memasak dan lain sebagainya.
Setelah beliau kerasan dan merasa betah tinggal di sana, beliau ingin sekali
masuk ke Madrasah yang waktu itu Ro’isul Madrasahnya adalah Kyai Syarwan. Tapi
untuk masuk Madrasah itu di syaratkan harus hafal Alfiyah minimal 300 nadzom.
Dengan sifat kecerdasan dan kecerdikannya, beliau minta tolong kepada pada
seorang Ustadz (asal Nduwet), bagaimana bisa masuk madrasah tanpa hafalan
Alfiyah. Dengan bantuan Ustadz, juga Syeh Mahmud, di kirimlah surat kepada Kyai
Syarwan (Roisul Madrasah) yang berisikan agar Abdul Djalil bisa masuk madrasah
tanpa harus hafalan.
“Untuk mendapatkan barokah ilmu maka dekatilah guru beserta keluarganya”,prinsip itulah yang nampaknya tertanam di hati Abdul Djalil. Beliau mempunyai cara yang unik untuk mendekati keluarga ndalem khususnya terhadap putra Kyai (Gus,red.). Hampir setiap malam beliau pergi ke sungai untuk mencari ikan. Sepulang dari mencari ikan beliau memasak dan akhirnya beliau memanggil gus-gus yang ada di situ untuk makan bersama-sama. Itulah suasana yang dijalin oleh Abdul Djalil dan putra kyai. Karena saking geleknya (seringnya,red.) beliau malakukan hal itu sampai beliau mendapat julukan “Rojo Thunthung”.
Di
awal tahun 1966 beliau pamit pada sang Kyai untuk pulang mengamalkan ilmu yang
diperoleh selama di pesantren. Sudah kurang lebih 48 tahun beliau mensyiarkan
agama di Kota Batu, khususnya di kalangan pesantren yang semua itu adalah demi
terwujudnya izzul Islam Wal muslimin.
Semoga
perjuangan beliau dirihoi Allah SWT dan semoga senantiasa di beri kesehatan
serta semoga biografi ini manjadikan tolak ukur bagi generasi penerus yang akan
datang, dimana dalam perjuangan tentunya
semakin berat ujian dan tantangannya.....!Amin.
Komentar
Posting Komentar